Sunday, October 26, 2014

RIWAYAT PAROKI BIDARACINA


Lahir sebagai Stasi yang Menumpang
Masih Menumpang pada Usia 50 tahun

Riwayat Paroki Bidara Cina tak terlepas dari sejarah Panti Asuhan Vincentius Putri. Paroki ini lahir sebagai stasi yang memanfaatkan kehadiran kapel dan Pastor Direktur panti asuhan.

Mula-mula Vincentius Putri bertempat di Jalan Pos, tetapi sudah pada tahun 1910 panti asuhan itu pindah ke Kramat 134. Baru lima tahun kemudian Vincentius Putra, yang waktu itu bernama Yayasan Santo Josef, menyusul masuk ke Kramat. Terbentuklah situasi yang kurang memuaskan: putra dan putri dalam satu kompleks. Pada tahun 1927 dibuat rencana memindahkan Vincentius Putri ke Sukabumi. Rencana tak terlaksana, rupanya karena tidak disetujui pemerintah Hindia Belanda.

Baru pada tahun 1937, dapat direncanakan pembangunan panti asuhan putri. Tanah yang cukup luas dibeli di Bidara Cina, di pinggiran selatan kota. Karena suster-suster Ursulin akan ikut pindah ke asrama baru itu, diperlukan sebuah kapel. Karena Pastor Direktur Panti Asuhan harus berdiam di kompleks, perlu pula dibangun sebuah rumah baginya. Keharusan-keharusan ini menimbulkan ilham pada Uskup, Mgr Willekens SJ, untuk juga memanfaatkan kapel dan “pastoran” itu bagi pelayanan umat Katolik di sekitar asrama. Pastor Direktur dapat merangkap tugasnya dengan tugas penggembalaan karena jumlah umat memang belum banyak. Gagasan itu disetujui dengan catatan: jika di kemudian hari paroki ternyata berkembang, akan dibeli tanah khusus untuk pusat paroki, sekitar satu setengah kilometer ke selatan. Sementara itu umat Bidara Cina diberi status “stasi”.

Stasi itu menyumbang untuk pembangunan kapel susteran, dan mendapat hak atas sejumlah tempat duduk dalam kapel. Pastor Direktur dibiayai penghidupannya oleh Vincentius. Jika di kemudian hari ada tambahan pastor khusus untuk pelayanan umat, tenaga baru itu akan menjadi tanggungan umat. Biaya pemeliharaan kapel dipikul bersama oleh Vincentius dan umat.

Pada tanggal 25 Oktober 1938, kapel diresmikan oleh Mgr Willekens dengan nama pelindung Santo Antonius dari Padua, seorang warga keluarga besar Santo Fransiskus Asisi, se-ordo dengan Pastor Direktur waktu itu, Pastor H.J. van der Veldt OFM. Dialah pastor pertama Bidara Cina, yang pada waktu itu hanya 346 orang, 310 di antaranya Belanda.

Pada tahun berikutnya, Pastor Fr. van Meer OFM menggantikan pastor pertama tadi, yang diperlukan untuk gerakan kepanduan. Pastor van Meer terpaksa minta izin Uskup untuk mengadakan misa dua kali karena umat terus bertambah.

Jabatan Direktur Vincentius dan pastor paroki akhirnya sulit dikombinasikan. Maka pada tahun 1942, imam-imam Jesuit diminta mengelola (calon) paroki Bidara Cina.


Disita Jepang
 
Penggembala Yesuit pertama di Bidara Cina, Pastor J. Wubbe, tidak lama dapat memanfaatkan kapel Vincentius itu. Pada tanggal 26 Desember datang perintah dari bala tentara Dai Nippon : seluruh kompleks harus dikosongkan dalam dua hari. Akan digunakan untuk menampung tawanan yang sakit asal daerah Jakarta.

Anak-anak dan para suster dapat ditampung di asrama Vincentius putra di Kramat Raya. Tetapi gerejanya masih harus dicari. Akhirnya Pastor Wubbe menemukan sebuah rumah besar. Dan dikirimlah surat berikut ini :

Jang bertanda tangan di bawah ini, Biskop Katholik di Djakarta, memberi taoe; bahwa penoelisnja, Patoor C. Doumen, sudah bitjara sama Toean Pembesar Polisi (Hoofdcommissaris) Kantor Polisi Besar, Gambir Barat, Djakarta, maka memberitaoekan bahwa Toean Kandjeng Biskop Katholik di Djakarta hendak menoendjoekkan soeatoe boeah roemah di Polonia-park, (barangkali roemah Polonialaan 18) mendjadi roemah kebaktian Katholik resmi Bidara Tjina;
bahwa ia soedah meminta soepaja itoe roemah dianggap sedemikian, dan mendapat hak-hak seperti gedung gerédja;
bahwa Pastor C. Doumen kemoedian soedah menoelis soerat kepada Toean Polisi terseboet, isinja seperti yang berikoet:

Djakarta, 2 Djanoeari 2603
Toean,
Ini tadi saja menerima kabar dari Pastoor Wubbe, bahwa geredja Bidara Tjina tidak dipindahkan ke Polonialaan 18, tetapi ke insulindelaan 15.
Sebabnja begitoe, oleh karena Pembesar-pembesar Nippon mengasihkan gedoeng Insulindelaan 15 kepada Pastoor Wubbe dengan sewaan jang ringan.
Pertjaja, bahwa Toean akan memberi taoe sektie Polisi jang berkepentingan atas perobahan jang terseboet diatas.
                        Dengan hormat,
                            C. Doumen

Rumah itu terletak di daerah Polonia, yang bernama demikian karena tuan tanah daerah itu orang Polandia berkewarganegaraan Belanda, Lasinski namanya. Halamannya luas : 100 x 25 meter. Kamar makan, serambi muka dan sebuah kamar lagi dijadikan kapel. Ternyata “gereja” ini cukup disukai umat.


Tanpa Imam

Pada bulan September tahun berikutnya Uskup Jakarta mendapat info bahwa semua pastor Belanda akan diinternir oleh Jepang. Maka untuk mengamankan pemeliharaan umat dan gereja-gereja, di semua paroki didirikan pengurus gereja, atas pengurus gereja yang ada dilengkapi dengan awam yang tidak diincer oleh tentara Jepang. Untuk paroki Bidara Cina diangkat pengurus sebagai berikut: van Polanen-Petel alias Oey Tjoei Liang, A.F. Wenas, J.A.M. Wijnhamer dan A.F.H. Resner. Pengangkatan ini terlaksana tepat pada waktunya, karena dalam bulan Oktober Pastor Wubbe jadi diangkut Jepang.

Selama tahun-tahun berikutnya pengurus tersebut menjalankan semua tugas pastor: menyelenggarakan ibadat hari Minggu lengkap dengan Komuni Rohani, mengurus pelajaran agama, mengunjungi umat, membantu yang susah. Tugas mengurus orang miskin dipercayakan secara khusus kepada Bapak Wijnhamer meninggal dunia. Ia digantikan oleh Bapak G.E.H.A. Guldenaar.

Untuk mengajar agama, pengurus dibantu oleh Nona Donkers dan adiknya, yang selama pastor tidak ada, tinggal dalam pavilyun rumah gereja.

Sebenarnya di Meester Cornelis (Jatinegara) waktu itu ada dua imam Indonesia: J. Moningka Pr dari Manado dan A. Voogt Pr dari Padang. Akan tetapi mereka juga harus melayani Bogor, Sukabumi, Rangkasbitung, Cianjur dan Cipanas. Pelayanan dilakukan dengan naik kereta Bumel (kereta rakyat yang berhenti di tiap stasiun). Maka tak ada waktu untuk Misa Minggu di Insulindelaan. Untung gereja Mester (Santo Yosef Matraman) tidak terlalu jauh dari Bidara Cina. Lagi pula banyak orang masih mempunyai sepeda meski dengan ban mati (ban padat, tanpa angin, buatan tangan atau cetakan pabrik sederhana).

Berkat kesiagaan pengurus itu umat paroki tetap tabah dan seluruh inventaris gereja terpelihara aman dan utuh.

Jepang kalah. Pastor Verhaar SJ keluar dari interniran dan dapat membantu di Jatinegara, sehingga Pastor Moningka dapat pindah ke Insulindelaan. Waktu itu situasi amat kurang aman. Banyak perampok berkeliaran. Maka banyak orang yang takut tinggal di pinggiran kota dan mengungsi. Pada suatu hari, rumah gereja pun didatangi gerombolan perampok. Mujur, Pastor Moningka ada di rumah, dan berkat keberaniannya, gerombolan itu mundur teratur. Tak lama kemudian, Pastor Kusters datang membantunya.


Pulang ke Vincentius


Kompleks Vincentius belum dapat ditempati karena masih dipakai untuk merawat orang sakit. Hanya Pastor S. Jorna SJ yang dapat tinggal di situ bersama beberapa suster yang ikut merawat. Baru pada tanggal 16 April 1946 kompleks itu dikembalikan kepada pemiliknya. Dan pindahlah Pastor Kusters ke pastoran, sedangkan Pastor Moningka pulang ke Manado.

Karena banyaknya anak laki-laki yang berkeliaran tak bersekolah Pastor Kusters mendirikan sebuah sekolah “liar” berbahasa Belanda dalam dua buah kandang mobil peninggalan tentara Jepang. Sekolah ini di kemudian hari “ditertibkan” menjadi sekolah yang kini menjadi sekolah Yayasan Antonius.

Dalam tahun 1947 Pastor Kusters pindah ke Jatinegara, digantikan Pastor Ruijgrok SJ. Dia yang minta izin Vincentius untuk membangun gedung sekolah sebagai ganti kandang mobil Jepang di atas tanah Vincentius. Ia juga menerima dua pastor “indekos”, yaitu Pastor Pudjohandojo Pr dan Pastor J.v.d. Deyl SJ yang bekerja di Kantor Wali Gereja (waktu itu CMB). Umat di asrama tentara Kramatjati sampai dengan tahun 1950 dilayani oleh Pastor tentara Belanda yang kebetulan di situ. Sesudah itu oleh Romo R.F.B.M. Surjomurdjito Pr, pastor tentara.

Pada tanggal 27 Juli 1952 Pastor J. Diderich SJ diangkat menjadi pastor kepala. Ia dibantu oleh Pastor G. Lomme. Menurut catatannya, semakin banyak orang mengikuti Misa Minggu. Kongregasi Maria untuk putri didirikan. Jumlah umat mencapai 1050 orang (600 Eropa, 400 Indonesia).

Paroki masih tetap menumpang pada Vincentius. Pada tahun 1954 diperbaharui perjanjian antara kedua belah pihak. Gereja dan pastoran tetap milik Vincentius, tetapi paroki mendapat hak pakai dengan syarat-syarat tertentu, antara lain: biaya rutin ditanggung bersama, masing-masing pihak menanggung lima puluh persen. Biaya luar biasa ditanggung Vincentius. Biaya rutin pastoran ditanggung paroki. Susteran menyediakan makanan gratis untuk seorang pastor. Yang lain harus membayar.

Pastor Diderich pindah tugas pada tanggal 9 Juli 1955. Yang menggantikannya adalah Pastor E. Janssen, disusul sebelas hari kemudian oleh Pastor S. Bratasoeganda SJ, yang menjadi pastor pembantu. Pastor Brata kemudian juga menerima tugas perawatan rohani asrama-asrama tentara di sekitar Cililitan, dan pelayanan Kampung Sawah. Pada bulan Agustus dibuka SMP sore.


Menjadi Paroki

Pada tahun 1955 itu Paroki Santo Antonius sudah berjalan tujuh belas tahun, tetapi belum juga berdiri secara resmi. Belum ada PGDP. Pengurus yang bertugas selama zaman Jepang hanya pengurus darurat. Akhirnya, pada tanggal 11 November 1955, Mgr A. Djajasepoetra SJ meresmikan paroki secara hukum Gereja dengan mendirikan Yayasan Pengurus Gereja dan Dana Papa RK Gereja Santo Antonius dari Padua di Jakarta, dengan personalia pertama: Pastor J.E. Janssen SJ, G.J. Ang Swan Poo, Fr.A. Dachlan, dan J. Soekidja Padmasadjana.

Pada pertengahan 1950-an itu, keberangkatan pulang orang Belanda ke negerinya menimbulkan perubahan menyolok pada susunan umat. Statistik 1955 masih menunjukkan: 540 Eropa, 420 Indonesia dan 50 lain-lain. Tahun berikutnya, angka-angka itu menjadi: 650 Indonesia, 300 Eropa, 80 lain-lain. Ini menjadi pangkal tolak perkembangan pesat umat Indonesia. Sepuluh tahun kemudian, jumlah umat sudah mencapai 2782 orang.

Ketentuan-ketentuan kerja sama dengan Vincentius diperbaharui pada tahun 1959. Yang ditanggung paroki meningkat sedikit menjadi dua pertiga dari keseluruhan biaya gereja, dari 50% tahun 1954.

Pada tahun 1963, datang Pastor Rob Bakker SJ, menggantikan Pastor Bratasoeganda SJ. Penuh semangat ia memperkembangkan Stasi Cililitan. Satu tahun kemudian sudah dibuat gambar konstruksi Gerejanya. Sepuluh tahun paroki diasuh oleh Pastor Janssen. Pada tanggal 5 Februari 1965 ia menyerahkan kepemimpinan kepada Pastor P. Kijm SJ. Karena tenaga Pastor Bakker tersedot oleh Kramatjati, Bidara Cina pun diperkuat dengan Pastor J. van Niekerk SJ.

Pada tahun 1968 Uskup meresmikan Pastor Bakker sebagai pastor pertama Paroki Santo Robertus, Cililitan. Modal awal paroki baru ini umat 905 orang, dan sebuah gereja dengan halaman luas dan gedung sekolah. Tetapi paroki induk yang melahirkannya tetap belum mempunyai gereja sendiri. Cijantung sementara itu tetap diasuh Bidara Cina. Pastor F. de Laat SJ mengisi tempat Pastor Bakker.

Pastor Kijm digantikan oleh Pastor A. Siswapranata SJ pada tanggal 24 Maret 1969. Tahun itu juga umat memasuki era baru dengan didirikannya Dewan Paroki. Awal 1970 dibuat sebuah rencana kerja terperinci: didirikan sebuah “klub apologetik” dan kursus katekis. Dibuat juga rencana mendirikan gedung paroki yang pada akhir tahun dapat direalisir dengan Rp.1.500.000,00 (!). Sayang, pada akhir tahun itu juga, Pastor de Laat, yang amat disenangi ibu-ibu WK, dipindahkan dan digantikan untuk satu tahun oleh Pastor H. Wiskicki SJ.


SCJ menggantikan SJ

Sementara itu rupanya Serikat Yesus mulai kekurangan tenaga untuk semua karya pelayanannya. Maka ketika Kongregasi Hati Kudus (SCJ) menawarkan bantuan, uluran tangan ini segera diterima oleh Uskup, untuk Paroki Bidara Cina. Pastor G. Elling SCJ pada akhir 1971 pindah dari Sumatra Selatan ke Bidara Cina untuk menjadi pastor pembantu. Pada tanggal 1 Januari 1973, Paroki Santo Antonius resmi dipindahtangankan. Pastor Elling menjadi pastor kepala baru, didampingi Pastor Marc Fordner SCJ. Mereka menggembalakan umat yang jumlahnya 3989 orang.

Sebelumnya, sekolah-sekolah Strada dikembalikan kepada paroki, dalam hal ini Yayasan Antonius, yang berhasil membangun gedung SD yang baru, bertingkat, dengan delapan ruang kelas. Pemuda Katolik mendapat sebuah Sekretariat baru dan lengkap. WK terus bergiat dengan berbagai macam aktivitas. Pramuka pun mulai hidup. Berkat bimbingan dan dorongan Pastor Fordner, perayaan liturgis di gereja mulai berkembang, bahkan semakin semarak, dengan meningkatnya partisipasi umat. Berita Paroki mulai beredar lagi.

Pada tahun 1975 perjanjian antara paroki dan Vincentius diperbaharui lagi. Ditentukan bahwa gedung sekolah dan paroki yang telah dibangun dengan izin Vincentius menjadi milik paroki eslama dipakai sesuai dengan izin itu. Jika di kemudian hari paroki meninggalkan halaman Vincentius, gedung-gedung tersebut menjadi milik Vincentius. Perubahan pada gedung-gedung yang dipakai oleh paroki atau perubahan penggunaan harus seizin Vincentius. Biaya perawatan gedung gereja dan pastoran menjadi beban penuh paroki.

Pada tahun itu juga pastoran diperluas dengan tiga kamar.


1977 sampai sekarang


Kesehatan Pastor Elling makin mundur, terganggu oleh beban usia dan tugas. Maka November 1977 ia menyerahkan kepemimpinan paroki kepada Pastor H.J.A. Sondermeijer SCJ, yang tetap dibantunya dalam melayani umat. Untuk meningkatkan pelayanan, dibangun sebuah gedung paroki baru. Gembala paroki ditambah dengan Pastor H.F.L.A. Baart SCJ. Pada waktu itu pula Pastor Fordner digantikan Pastor St. Endrakaryanto SCJ. Pastor Elling tetap membantu sampai wafatnya.

Pada tahun 1984 datang Pastor J. Puryanto SCJ, yang baru sepuluh tahun kemudian berpindah tugas ke Palembang. Pastor H. Henslok SCJ datang pada bulan Desember 1988 untuk menggantikan Pastor Sondermeijer sebagai kepala paroki, karena Pastor Sonder mendapat tugas menggembalakan umat di sebuah paroki yang teramat luas di Mindanao, Filipina. Karena Pator J. Harjoto SCJ berangkat bersama dengan kedatangan Pastor Henslok, Pastor Pur yang jangkung dan penuh dinamik itulah satu-satunya imam yang mendampingi Pastor Henslok sampai Pastor P. Gunawan Setyadi SCJ berkarya di Bidaracina, setelah ditahbiskan di Pringsewu, Lampung, pada bulan Desember 1992. Pastor muda yang bicaranya lembut ini berkarya di Bidaracina sampai Mei 1995, ketika ia kembali ditugasi di Lampung. Romo Gun digantikan oleh Pastor P. Sarmono SCJ yang mulai berkarya di Paroki Bidaracina pada bulan Januari 1995. Imam Serikat Hati Kudus Tuhan Yesus ini juga muda dan dinamis. Khotbah-khotbahnya banyak menggarami umat dengan semangat solider dan semangat pelayanan untuk yang kecil, miskin dan papa. Barangkali ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sarem adalah kata Jawa untuk garam, dan saremono berarti garamilah.

Dan umat pun tumbuh terus. Pada akhir 1979 jumlahnya 6400 orang. Pada tahun 1993, menurut sensus yang diselenggarakan oleh Dewan Paroki, jumlah itu mencapai 7528 orang. Tidaklah mengherankan bahwa gedung gereja, kapel Panti Asuhan itu, terasa semakin terasa sempit. Lagu pula gereja ini tidak ideal lagi untuk kontemplasi, karena terganggu oleh lalu lintas yang menderu dan menderam lewat di depan pintunya.

Pada kunjungan resmi pertama ke Paroki Santo Antonius Padua sejak Romo Henslok mengabdi sebagai kepala paroki, Uskup Agung Jakarta, Mgr Leo Soekoto SJ, mengingatkan bahwa Paroki Bidaracina inilah termasuk paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang tidak mempunyai gereja sendiri. Agaknya peringatan ini menyengat Pastor Kepala Paroki. Apalagi makin lama makin nyaring informasi bahwa Rencana Tata Ruang DKI di Jakarta Timur akan memotong gedung gereja yang kini sudah dekat sekali ke jalan itu. Yang pasti, masalah tidak punya gereja itu dibawa Pastor Henslok ke dalam rapat Dewan Paroki / PGDP (SK.No.16/DP/7/1990) sebuah Panitia Pembangunan Gereja dengan Brigjen Pol (Purn.) Drs Anton S.E. Tifaona sebagai ketua. (Baca juga: Gereja Stasi Santo Agustinus Sebuah Hasil Awal)

Find us on Facebook
Follow Us