Wednesday, July 30, 2014

SEJARAH GEREJA PAROKI ST ANTONIUS PADUA

 

Buku baptis Paroki St Antonius Padua Bidaracina dimulai tahun 1939. Paroki diresmikan pada 1955 dengan mendirikan PGDP St Antonius dari Padua, ketika Pater J. Janssen SJ menjabat Pastor Paroki.

Gereja atau Kapel Panti Asuhan Putri St Vincentius diresmikan pada 1938.  Karena Stasi Bidaracina menyumbang pada pembangunan Kapel Susteran, maka sebagian boleh dipakai umat.  PGDP darurat diadakan pada 1942 untuk melindungi hak milik paroki pada masa pendudukan Jepang, mengatur pengajaran agama dan menyiapkan ibadat (tanpa imam). Hal itu dilakukan karena pada waktu itu semua imam Belanda diinternir oleh tentara Jepang dan kompleks Panti Asuhan diduduki oleh Jepang. Perjanjian pada tahun 1954: Kapel dan Pastoran, milik Vincentius, boleh dipakai oleh Paroki, ongkos reparasi ditanggung setengah-setengah.

Pastor pertama Pater H.J. van der Veldt OFM yang mulai bertugas pada 1938. Setelah digembalakan oleh Fransiskan, imam-imam Jesuit masuk ke Bidaracina menggantikannya. Pater Wubbe SJ adalah imam Jesuit pertama yang datang menggantikan imam Fransiskan pada 1942. Ketika pendudukan Jepang, ibadat dirayakan di rumah seorang Polandia yang bernama Mr Lasinski. Hal tersebut berlangsung sampai dengan tahun 1943. Pater Moningka Pr datang dan mengusir perampok dari pekarangan (1946). Para pastor Jesuit mengurus paroki ini sampai 1973, lalu diserahkan kepada imam-imam SCJ.

Paroki Bidaracina telah melahirkan Paroki St Robertus Bellarminus - Cililitan (1968). Paroki baru ini bermula hanya dengan 905 orang beriman sebagai umat awal, kemudian Paroki Cililitan mengembangkan 4 Paroki baru.

 

 

  • BUKU KENANGAN : Pesona Nada Tempo Doeloe - Paroki Santo Antonius Padua - 3 November 1995
    Torehan rekam sejarah Paroki St Antonius Padua Bidaracina yang menggeliat mengumpulkan dana untuk mengejar impian mempunyai Gereja sendiri. Alhasil, Stasi St Agustinus Halim Perdanakusuma akhirnya berdiri dengan Gereja sendiri, meski berstatus stasi dari Paroki St Antonius Padua. Sementara,induknya masih menumpang di Kapel Susteran Bidaracina.
    (PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA I dan PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA II Tahun 1995)
  • BUKU "AJARILAH KAMI MENJADI MURID-MU" - Desember 2013
    Buku ini berjudul “Ajarilah Kami Menjadi Murid-Mu”; berisi tentang refleksi perjalanan hidup menggereja sebagian tokoh pendahulu paroki ini. Pengalaman-pengalaman konkrit yang mereka alami diharapkan menjadi suatu oase rohani bagi umat. Intinya ialah menggali pengalaman iman, semangat pelayanan dan spiritualitas kemuridan yang mereka hidupi dalam hidup menggereja. Oleh karena itu, kisah-kisah itu disorot dari lima pilar gereja Liturgia (liturgi), Kerygma (katekese), Diakonia (pelayanan), Koinonia (persekutuan), dan Maryrtia (kesaksian). 
    Karena kisah-kisah yang dimuat di dalamnya ialah refleksi pengalaman iman akan Yesus yang dihidupi umat dalam rangka belajar menjadi murid Yesus, buku ini tak akan habis dimakan usia. Artinya, spiritualitas dasar yang tergali dari setiap pernik pengalaman menjadi refleksi yang hidup dan terus bisa dibaca setiap saat. Seperti kotbah Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo yang juga dimuat lengkap sebagai pengantar dalam buku ini: "Paroki St Antonius Padua Bidaracina dan Komunitas St Vincentius Otista mempunyai cita-cita yang sangat bagus. Perlu disadari bahwa itulah cita-cita Gereja sepanjang zaman. Marilah ....kita berdoa dan saling mendoakan agar cita-cita ini, kendati berhadapan dengan segala macam tantangan, tidak akan pernah kita lepaskan dari cita-cita iman kita". Inilah ajakan reflektif atas tema "Menimba, Mencecap dan Mengaktualisasikan Spiritualitas Komunitas Persaudaraan" yang terangkum dalam buku ini.
    Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan kilasan sejarah singkat paroki dan refleksi pengalaman komunitas religius (SCJ, OSU, RSCJ, SND, CM) yang ada di paroki ini sebagai penggalian spiritualitas persaudaraan. Bahkan, buku ini dibuka dengan prolog dari Romo Yohanes Samiran SCJ dan Epilog dari Romo Paulus Sarmono SCJ, yang berisi simpul-simpul refleksi atas karya penggembalaan di paroki ini.
    Akhirnya, dengan membaca buku ini, diharapkan semangat pelayanan dan keterlibatan kita dalam kehidupan menggereja tergugah dan kita masing-masing menemukan cara yang sesuai untuk mengabdi Tuhan melalui Gereja-Nya dan sesama yang dipercayakan Tuhan pada kita. Tuhan memberkati!
Find us on Facebook
Follow Us